Kegiatan yang dilaksanakan pada 12 Februari di Kota Depok ini merupakan bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat berbasis solusi aplikatif.
Pelatihan tersebut terselenggara melalui kolaborasi dengan Amanina Depok sebagai event organizer serta Kedai Mie Aceh Chrysant, dan diikuti oleh 30 pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha, mulai dari kuliner, fesyen, hingga jasa
Keragaman latar belakang peserta mencerminkan kebutuhan lintas sektor terhadap penguatan literasi digital, tata kelola keuangan, serta pemenuhan standar legalitas usaha di tengah dinamika ekonomi berbasis teknologi.
Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Lela Nurlaela Wati, S.E., M.M., menjelaskan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan struktural bagi UMKM agar mampu bertahan dan berkembang dalam lanskap persaingan yang semakin kompetitif.
“Digitalisasi UMKM harus dimaknai secara komprehensif, bukan semata-mata kehadiran di media sosial. Digitalisasi mencakup tata kelola keuangan yang tertib, strategi pemasaran berbasis data, hingga kepatuhan terhadap regulasi seperti sertifikasi halal. Ketiganya merupakan fondasi ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Prof. Lela.
Dalam sesi keuangan digital, Prof. Lela bersama Dr. Ade dan Dr. Momon memandu praktik penyusunan laporan keuangan berbasis otomatisasi.
Peserta dilatih menyusun pencatatan transaksi harian, laporan laba rugi, serta arus kas menggunakan sistem digital sederhana yang dirancang sesuai kebutuhan UMKM.
Prof. Lela menegaskan bahwa banyak pelaku usaha memiliki potensi produksi dan pasar yang kuat, namun terkendala dalam aspek administrasi dan pembukuan.
“Keteraturan pencatatan keuangan akan meningkatkan kredibilitas usaha di mata lembaga pembiayaan. UMKM yang bankable bukan hanya dinilai dari omzet, tetapi juga dari tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel. Ini adalah prasyarat utama untuk akses permodalan dan ekspansi usaha,” tambahnya.
Sementara itu, materi marketing digital disampaikan oleh Dr. Ir. Maharini Rahsilaputeri, M.M., bersama Dr. Viniyati dan Dr. Meisa Reresimi. Mereka membimbing peserta memahami segmentasi pasar, diferensiasi produk, strategi branding, serta optimalisasi platform digital sebagai instrumen komunikasi pemasaran.
Menurut Dr. Maharini, pendekatan pemasaran digital harus berbasis pada pemahaman perilaku konsumen dan konsistensi narasi merek.
“Strategi marketing digital tidak cukup hanya dengan memposting produk.
Pelaku UMKM perlu membangun identitas merek, menciptakan storytelling yang autentik, serta memanfaatkan analitik digital untuk membaca respons pasar. Dengan demikian, keputusan bisnis menjadi lebih rasional dan berbasis data,” jelasnya.
Aspek lain yang mendapat perhatian khusus adalah sertifikasi halal sebagai instrumen peningkatan kepercayaan konsumen dan perluasan akses pasar. Peserta diberikan pemahaman mengenai prosedur, persyaratan administratif, hingga implikasi strategis sertifikasi halal bagi keberlanjutan usaha, khususnya di sektor kuliner.
Dr. Meisa Reresimi menekankan bahwa sertifikasi halal memiliki dimensi ekonomi dan reputasional yang signifikan.
“Sertifikasi halal bukan hanya kewajiban normatif, tetapi juga strategi diferensiasi pasar. Dalam konteks ekonomi syariah yang terus berkembang, kepemilikan sertifikasi halal akan meningkatkan daya saing produk, baik di pasar domestik maupun internasional,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga diperkuat dengan partisipasi mahasiswa Magister Manajemen, Yuniza, yang mempresentasikan prototype aplikasi Grow UMKM. Aplikasi tersebut dirancang sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system) untuk membantu pelaku usaha menentukan strategi marketing digital yang lebih terukur dan efektif.
Menariknya, pelatihan tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata. Pada akhir kegiatan, terjadi transaksi penjualan antar peserta dan tamu undangan, yang menunjukkan implementasi langsung strategi pemasaran yang baru dipelajari.
Prof. Lela menilai dinamika tersebut sebagai indikator keberhasilan pendekatan pelatihan berbasis praktik.
“Kami ingin memastikan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak bersifat seremonial. Ketika peserta mampu langsung mempraktikkan strategi, melakukan transaksi, dan membaca respons pasar secara nyata, di situlah proses pembelajaran menjadi transformatif,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, Tim PKM Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta berharap tercipta ekosistem UMKM yang adaptif terhadap perubahan teknologi, memiliki tata kelola keuangan yang akuntabel, serta memenuhi standar legalitas usaha. Dengan demikian, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh sebagai pilar utama penguatan ekonomi lokal dan nasional di era digital.(red)
Editor: HR Oen




0 Komentar