Di antara deretan orang-orang yang datang mendoakan, ada satu sosok , sahabat karibnya, Hoerudin atau yang akrab dipanggil Kang Oen.
Bagi Kang Oen, rasa hormat kepada Dalang Pajar tak berhenti saat napas terakhir sang multitalenta itu berakhir.
Ia hadir hampir setiap malam, duduk tenang di barisan depan, memanjatkan doa yang sama dengan tulus, seolah ingin membisikkan pada sahabatnya yang telah tiada:
"Aku masih di sini, kawan. Aku tak meninggalkanmu."
Kepergian A Suhendra, rasanya seperti kehilangan separuh dari perjalanan hidup. Kenangan yang kami ukir bersama begitu dalam, tak akan mudah terhapus oleh waktu," ujar Kang Oen dengan mata berkaca-kaca.
"Rasa hormat kepada beliau bukan hanya saat beliau berjalan di samping bersama. Sampai saat ini pun, meski beliau telah berpulang, rasa itu tetap utuh tak berkurang sedikitpun. Itulah sebabnya saya berusaha hadir setiap acara tahlil ini, sekadar mendoakan ketenangan jiwanya, dan memberikan penghormatan terakhir untuk sahabat terbaik." paparnya
Keduanya adalah dua jiwa yang saling melengkapi, berjalan beriringan melewati gelap terang kehidupan selama puluhan tahun. Bermula dari dunia jurnalistik, bersama-sama di PWI dan Media, merasakan getirnya berburu berita, berbagi cerita di meja redaksi, saling menopang saat menghadapi badai profesi, hingga berbagi piluh dan pikiran di dunia bisnis. Selalu saling bertukar pikiran.
Hingga akhirnya keduanya sepakat mengabdi menjaga warisan budaya wayang golek, dan bahu-membahu mengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Karawang.
Dalang Pajar menjabat sebagai Wakil Ketua, sementara Kang Oen dipercaya sebagai Humas.
"Kami berbagi segalanya: tawa, lelah, harapan, bahkan mimpi untuk hidup bahagia. Saat susah kami lewati bersama, saat senang pun harapan kami ingin menikmati beriringan. Beliau bukan sekadar rekan kerja atau kawan biasa, beliau adalah saudara sejati yang dikirimkan Tuhan untuk saya," tambahnya lirih.
Kehadiran Kang Oen dari hari pertama hingga hadir pada hari ke-7 ini menjadi bukti nyata: persahabatan sejati tak pernah terputus oleh kematian.
Rasa hormat, kenangan indah, dan doa tulus adalah cara paling tulus menjaga sosok yang telah mendahului, agar namanya tetap hidup selamanya di hati orang-orang yang menyayanginya.(red)
Foto Kenangan : Dalang Suhendra (Kiri) dan Kang Oen (Kanan)



0 Komentar